Manasik مناسك
‹ Sunnah

Dua Rakaat di Belakang Maqam Ibrahim (Salat Tawaf)

ركعتا الطواف خلف مقام إبراهيم

Rak'ata at-Tawaf khalf Maqam Ibrahim

SunnahTandai selesai

Ikhtisar

Setelah menyelesaikan tujuh putaran tawaf, dianjurkan menunaikan dua rakaat yang pendek, sebaiknya di belakang Maqam Ibrahim, tempat berdirinya Nabi Ibrahim (عليه السلام). Keduanya dikenal sebagai 'dua rakaat tawaf'.

Doa

Ketika mendekati Maqam

وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِـۧمَ مُصَلًّى

Wa-ttakhidhu min maqami Ibrahima musalla

Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.

Dibaca ketika bergerak menuju Maqam Ibrahim setelah menyelesaikan tujuh putaran, sebelum dua rakaat.

Rujukan · Qur'an 2:125; Sahih Muslim 1218

Derajat · Lafalnya adalah Al-Qur'an 2:125; salat di belakang Maqam berasal dari hadis Jabir (RA) tentang haji dalam Sahih Muslim 1218.

Dalam dua rakaat itu

Surah al-Kafirun (Qur'an:109), then Surah al-Ikhlas (Qur'an:112)

Sesudah al-Fatihah, bacalah Surah al-Kafirun pada rakaat pertama dan Surah al-Ikhlas pada rakaat kedua.

Dua rakaat tawaf, ditunaikan di belakang Maqam (atau di mana saja di dalam masjid).

Rujukan · Sahih Muslim 1218

Derajat · Sahih (Sahih Muslim).

Al-Qur'an

Surah al-Baqarah —'وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِـۧمَ مُصَلًّى'(Kemenag RI: 'Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat.'). Inilah dasar langsung dari Al-Qur'an bagi salat di belakang Maqam.

Rujukan · Qur'an 2:125

Hadis

(hadis panjang Jabir bin Abdullah (RA) yang menggambarkan haji Nabi (ﷺ)): setelah menyelesaikan tawaf, Nabi (ﷺ) menuju Maqam Ibrahim, membaca'وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى',lalu menunaikan dua rakaat dengan posisi Maqam berada di antara beliau dan Ka'bah, membaca pada keduanya Surah al-Kafirun (Qur'an:109) dan Surah al-Ikhlas (Qur'an:112). Sahih al-Bukhari 4483 (Tafsir al-Baqarah, juga Bukhari 402), diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab (RA): 'Aku bersepakat dengan Tuhanku dalam tiga perkara... aku berkata, Wahai Rasulullah, alangkah baiknya jika engkau menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat salat, maka turunlah ayat'وَٱتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرَٰهِـۧمَ مُصَلًّى'.'

Rujukan · Sahih Muslim 1218 · Sahih al-Bukhari 4483 · Sahih al-Bukhari 402

Derajat · Sahih Muslim 1218: Sahih (dalam Sahih Muslim), Sahih al-Bukhari 4483: Sahih (dalam Sahih al-Bukhari), Sahih al-Bukhari 402: Sahih (dalam Sahih al-Bukhari)

Semua jenis haji (tamattu, qiran, ifrad) dan sesudah setiap tawaf. Jemaah Tamattu', yang mengerjakan dua tawaf (tawaf umrah dan tawaf ifadah), menunaikan dua rakaat sesudah masing-masing; demikian pula sesudah tawaf lain yang dikerjakan.

Syafi'i dan Hanbali: tanpa sanksi — hanya sebuah sunnah yang terlewat; tawaf dan hajinya tetap sah. Hanafi: berdosa bila ditinggalkan dengan sengaja, tetapi tidak ada dam, sebab dua rakaat itu tetap terutang dan boleh ditunaikan kapan saja sesudahnya. Maliki: untuk tawaf yang wajib, meninggalkannya menuntut mengqadanya serta membayar dam bila jemaah sudah meninggalkan Makkah. Menunaikannya bukanlah syarat sahnya tawaf dalam mazhab mana pun.

Segera setelah menyelesaikan putaran ketujuh dari tawaf mana pun. Tidak terikat jam; bila jatuh pada waktu yang dimakruhkan untuk salat, para ulama berbeda pendapat tentang menundanya, tetapi untuk salat tawaf kebanyakan membolehkannya kapan saja.

Di belakang Maqam Ibrahim di Masjidil Haram, sebaiknya dengan posisi Maqam berada di antara orang yang salat dan Ka'bah. Bila penuh sesak, dua rakaat itu boleh ditunaikan di mana saja di dalam Masjidil Haram atau di area Haram yang lebih luas — salat tepat di belakang Maqam itu dianjurkan, bukan diharuskan.

  • •Berdesakan dan salat merapat ke Maqam di jalur orang yang sedang bertawaf sehingga menghalangi mereka — lebih baik salat lebih ke belakang
  • •Menyangka salat itu harus tepat di belakang Maqam (padahal boleh di mana saja di dalam masjid atau area Haram)
  • •Meninggalkan dua rakaat itu sama sekali
  • •Menunaikan lebih dari dua rakaat
  • •Tidak mengetahui dua bacaan sunnahnya (al-Kafirun lalu al-Ikhlas sesudah al-Fatihah)
  • •Menunda atau menghambat arus tawaf demi mendapatkan tempat persis di belakang Maqam

Perbedaan empat mazhab yang nyata mengenai dua rakaat sesudah tawaf.

  • •Hanafi: Wajib sesudah setiap tawaf (baik yang wajib maupun yang sunnah); meninggalkannya dengan sengaja itu berdosa, tetapi tidak ada dam karena salat itu tetap menjadi utang yang dapat ditunaikan kemudian.
  • •Maliki: Wajib bagi tawaf yang menjadi rukun atau yang wajib (misalnya tawaf ifadah), menurut pendapat masyhur; bila ditinggalkan dan jemaah sudah keluar dari Makkah, ia harus menunaikannya dan menyembelih di Makkah; hukumnya sunnah bagi tawaf yang sunnah.
  • •Syafi'i: Sunnah (muakkadah), bukan wajib, tanpa sanksi.
  • •Hanbali: Sunnah (muakkadah), bukan wajib, tanpa sanksi.

Inilah yang disebut 'dua rakaat tawaf'. Salat sunnah atau salat fardu biasa (yang bukan salat tawaf) tidak menggantikannya pada mazhab yang memandangnya wajib. Setelah menunaikannya, Nabi (ﷺ) kembali ke Hajar Aswad (istilam) lalu menuju Safa untuk sai (pada tawaf yang diikuti sai). Salat di belakang Maqam adalah tempat yang dianjurkan; kewajibannya, pada mazhab yang memandangnya wajib, melekat pada dua rakaat itu sendiri, bukan pada titik tempatnya secara persis.